Pages

Sabtu, 20 Juli 2013

Charles Posper Wolf Schoemaker “Gedung Jaarbeurs”

Schoemaker dilahirkan di Banyubiru, dekat Salatiga, Jateng pada tahun 1882. Pendidikan sekolah menengahnya diselesaikan di Nijmegen (1897-1902). Antara tahun 1902 sampai tahun 1905 ia memasuki akademi militer di Breda. Setelah tamat dengan pangkat sebagai letnan, ia bekerja pada corp zeni angkatan darat kerajaan Belanda. Dia bekerja untuk membangun jalan kereta api dan jaringan telegraph di Selatan distrik Preanger-Jabar, kemudian pada th. 1908-1910 ia dipekerjakan di Padang (Sumatra Barat) dan akhirnya pada tahun 1910-1911 ia ditempatkan dimarkas besar corps nya di Batavia. Pada tahun itu juga rupanya ia mengakhiri kariernya secara resmi di angkatan darat kerajaan Belanda.
Dari bulan oktober 1912 sampai Juni 1913, Schoemaker bekerja sebagai arsitek di bagian pekerjaan umum Gemeente Batavia. Pada saat itu ia merancang rumah sakit Gemeente Batavia, yang sekarang berkembang menjadi rumah sakit Dr. Cipto Mangunkusumo. Setelah 9 bulan bekerja untuk Gemente Batavia, ia pindah ke kantor Moojen & Company. Disana ia juga bekerja selama 9 bulan dengan menangani berbagai perancangan bangunan seperti stasiun kereta api kecil, komplek bengkel kereta api di Madiun, menara air di Surabaya dan sebagainya.
Dari bulan Pebruari 1914, sampai Pebruari 1917, Schoemaker bekerja kembali di Departemen Pekerjaan Umum Gemeente Batavia, tapi kali ini ia berkedudukan sebagai direktur. Pekerjaan perancangan yang ditanganinya sangat luas mulai dari pasar, abatoir dengan fasilitas pendinginnya sampai perencanaan bagian kota Batavia secara umum.
Setelah itu Schoemaker pindah pekerjaan lagi sebagai kepala bagian teknik dari perusahaan besar Carl Schlieper & Company, yang bergerak dibidang alat-alat teknik dan permesinan. Perusahaan inilah yang mengirimnya untuk suatu studi perbandingan ke Eropa dan Amerika. Ia tinggal cukup lama di Amerika karena di Eropa pada saat yang bersamaan waktu itu terjadi Perang Dunia pertama. Di Amerika Schoemaker mengunjungi New York, Buffalo, Cleveland, Detroit, Chicago, Washington, Los Angeles, Long Beach, Sacramento, Santa Rosa, San Franssisco untuk mempelajari tata ruang kotanya, perencanaan transportasi dan arsitektur modern, serta teknologi konstruksi (Jessup, 1988:127). Pada bulan Mei 1918 ia baru kembali ke Batavia.
Setelah tiba di Hindia Belanda pada th. 1918, Schoemaker memilih Bandung sebagai tempat kerja, serta tempat tinggalnya. Waktu Sekolah Tinggi Teknik Bandung yang dirancang oleh Maclaine Pont dibuka th. 1921, ia mengajar sebagai dosen sejarah arsitektur disana dan pada th. 1924 Schoemaker diangkat sebagai profesor (guru besar) arsitektur. Gelar tersebut terus dipegangnya sampai th. 1941. Disamping sebagai guru besar Schoemaker juga mempunyai biro arsitek yang namanya sangat terkenal yaitu: “C.P. Schoemaker en Associate Architecten en Ingenieurs”. Ir, Sukarno (Presiden pertama R.I.) pernah bekerja sebagai juru gamba pada kantor Schoemaker di Bandung (Kunto, 1996:40). Ia meninggal pada th. 1949 dalam usia 67 tahun di Bandung. Jenasahnya juga dimakamkan di pemakaman umum Cikutra Bandung.
Karya-Karya Schoemaker
Pengalamannya yang sangat luas selama 35 tahun sebagai seorang arsitek meninggalkan perpuluh-puluh bahkan mungkin ratusan bangunan yang tersebar di berbagai kota Indonesia. Banyak sekali karya Schoemaker yang sampai sekarang menjadi “landmark” lingkungan kota-kota besar di Jawa.
Diantara banyak karya Schoemaker bisa disebutkan antara lain:
1. Penjara Sukamiskin-Bandung tahun 1919
2. Gedung Jaarbeurs – Bandung tahun 1927
3. Koloniale Bank – Surabaya tahun 1927
4. Hotel Preanger – Bandung tahun 1930
5. Mesjid Cipaganti – Bandung tahun 1933
6. Gereja Santo Petrus – Bandung tahun 1922
7. Villa Isola – Bandung th. 1933 (Gb.9)
8. dan sebagainya.

Gaya desainnya selalu berubah. Tapi perubahan yang mencolok terjadi setelah ia pulang dari Amerika pada tahun 1918. Rupanya bentuk arsitektur modern di Amerika sangat mempengaruhinya. Terutama sekali adalah gaya dari Frank Lloyd Wright, arsitek Amerika yang terkenal pada saat itu. Hal ini bisa dilihat dari karya – karyanya seperti gedung Koloniale Bank di Surabaya dan Hotel Preanger di Bandung, dimana garis-garis dominan yang sejajar dengan tanah, serta detail-detail geometris kelihatan sangat dominan sekali, yang merupakan ciri khas Frank Lloyd Wright. Tapi setelah tahun 1930 an desain dari Schoemaker rupanya telah menemukan bentuknya sendiri. Villa Isola, yang dirancang pada tahun 1933 merupakan salah satu karya puncaknya. Perancangan tersebut cocok dengan jiwanya yang penuh romantisme dan petualangan. Villa Isola di Bandung tersebut sering disebut sebagai salah satu karya arsitektur modern dengan gaya “Art Deco” yang berhasil di dunia.

Pada karya tulis ini cagar budaya yang akan dibahas adalah Gedung Jaarbeurs.

Gedung Jaarbeurs yang berada di Menadostraat 50 (kini Jalan Aceh) didirikan pada tahun 1925 oleh kontraktor G.J. Bel berdasarkan karya arsitek C.P. Wolff Schoemaker (1882-1949). Gedung Jaarbeurs bergaya arsitektur Art Deco dengan tiga patung torso Atlas bugil di bagian atapnya dan tulisan Jaarbeurs di bagian bawah. Atlas adalah tokoh dari mitologi Yunani kuno yang dihukum memanggul langit di pundaknya untuk selamanya. Pada masa itu penyelenggaraan Jaarbeurs pada bulan Juni-Juli merupakan titik puncak kemeriahan kota Bandung.
Jaarbeurs merupakan sebuah bursa dagang tahunan yang diselenggarakan di Bandung mulai dari tahun 1920 hingga 1941 atas prakarasa perkumpulan “Bandoeng Vooruit” (= Bandung Maju). Dari tahun 1920 sampai 1924 Jaarbeurs dilaksanakan di area sebelah selatan lapangan olah raga NIAU (= Nederlandsch Indische Athletiek Unie), yang sekarang dikenal sebagai Gelora Saparua. 
Sejak tahun 1942 acara ini tidak dilanjutkan kembali. Pada masa pendudukan Jepang gedung Jaarbeurs menjadi kamp interniran. Pada tahun 1945-1949 gedung digunakan sebagai markas militer Belanda MTD (Motor Technische Dienst). Setelah 1949 bekas gedung Jaarbeurs menjadi markas militer TNI AD. Salah satu komandannya pernah menutup ketiga patung Atlas sama tripleks karena dianggap vulgar. Patung tersebut ditutup terus sepanjang tahun 1970 dan 1980-an tetapi telah dibuka kembali. Sekarang gedung Jaarbeurs menjadi gedung MAKODIKLAT TNI-AD (Markas Komando Pendidikan dan Latihan). Bekas gedung loket penjualan karcis Jaarbeurs menjadi gardu jaga. Sejak tahun 2005 gedung Jaarbeurs bisa disewa sebagai tempat resepsi pernikahan. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar